PAK Hidup Ditengah Masyarakat Majemuk dan Mampu Meningkatkan Mutu Kehidupan Komunitas

Bagikan:
St. Raja Hasoge Timbul Panjaitan

Oleh: St Raja Hasoge Timbul Panjaitan-Mahasiswa Pascasarjana PAK STT Renatus Pematangsiantar.

DALAM kehidupan bermasyarakat khusus bagi suku Batak Toba, komunitas merupakan hal penting. Ibarat kata masakan tanpa garam rasanya akan hambar, demikian hidup tanpa komunitas, bagi suku batak itu sungguh hal gajil. Komunitas ini bisa terbilang sebuah keharusan karena berkaitan dengan tuntutan proses adat istiadat seperti acara menikah, acara syukuran dan lainnya.

Dikalangan suku batak komunitas lebih dikenal dengan sebutan punguan. Namun pada prinsipnya, komunitas bagi orang Batak konsepnya serikat tolong-menolong. Entah itu komunitas kesamaan marga atau satu marga, komunitas dari serikat bertetangga (satu kampung). Biasannya selalu dijadwalkan pertemuan berdasarkan kesepakatan bersama. Apakah satu kali dalam seminggu, satu kali dalam sebulan atau sekali dalam empat bulan. Termasuk mengenai program kerja. Semua ini ditentukan dalam Anggaran Dasar Anggaran Rumah Tangga (AD/ART).

Selama ratusan tahun terakhir ini acara di komunitas hal lazim terjadi adalah ibadah singkat khususnya bagi yang beragama nasrani. Tujuannya mempererat tali kasih sekaligus meningkatkan kedewasaan mengenai pengetahuan agama dan karakter. Bisa dipastikan, anggota dalam sebuah komitas marga dan serikat bertetangga berlatarbelakang denominasi gereja. Namun dalam ibadah, semua anggota menanamkan konsep yang sama yaitu mengesampingkan perbedaan pemahaman antar gereja sehingga kebaktian singkat yang didalamnya ada nyanyian memuji Tuhan dan kotbah dapat diterima bersama-sama.

Menariknya di komunitas tersebut adalah pendekatan untuk saling menghargai dimulai dari budaya atau adat istiadat. Hal seperti ini tentu layak untuk di contoh sebagai mana dilakukan komunitas satu marga yaitu Tuan Dibangarna (Panjaitan, Silitonga, Siagian dan Sianipar dan boru/Ibebera) di Kecamatan Siantar Sitalasari, Pematangsiantar. Di setiap ibadah singkat harus ada yang memimpin. Mulai pemimpin acara, pemimpin pujian, termasuk memimpin membawakan siraman rohani. Namun untuk menentukan siapa yang akan memimpin terlebih untuk membawa kotbah, tidaklah muda. Kotbah identik dengan Pendidikan Agama Kristen (PAK), walau nuansanya dibawakan dengan sederhana.

Menurut tokoh reformasi kekristenan, Martin Luter (1488-1548) PAK adalah pendidikan yang melibatkan warga jemaat untuk belajar teratur tertib agar semakin menyadari dosa mereka serta bersukacita dalam firman Tuhan yang memerdekakan. PAK memperlengkapi mereka dengan sumber iman, khususnya yang berkaitan dengan pengalaman berdoa, dan rupa-rupa kebudayaan sehingga mereka mampu melayani sesamanya termasuk masyarakat.

PAK yang diambil dari terjemahan bahasa inggris yaitu Christian Religius Education, dalam masyarakat majemuk dengan pendekatan budaya terhadap pluralisme di Kecamatan Siantar Sitalasari Kota Pematangsiantar cukup baik. PAK ini memang cenderung dipahami hanya berlaku di sekolah. Namun sesungguhnya PAK itu terdiri dari non formal, formal dan informal. Non formal itu dilaksanakan punguan Tuan Dibangarna di Kecamatan Siantar Sitalasari.

PAK bukanlah sekedar kegiatan biasa, akan tetapi bentuk usaha sadar dari lembaga gereja, sekolah dan berbagai lembaga lainnya untuk mencapai tujuan yang diharapkan.

Sesuai hakekatnya PAK adalah usaha yang bersifat pendidikan dan pembelajaran. PAK juga memerlukan persiapan serta perencanaan yang matang. Pada saat menyelenggarakan PAK diperlukan tujuan yang jelas. Terdapat rencana pokok pembelajaran, memiliki penjadwalan yang teratur dan berbagai hal lain yang berhubungan dengan pelaksanaan pembelajaran. Tujuan PAK diarahkan kepada miningkatnya aspek kognitif, afektif dan psikomotorik secara seimbang.

Bagikan: