Mahasiswa Magang Jangan Sebatas Ngurus Kopi dan Fotocopy

Bagikan:
Jalatua Hasugian

BANYAKNYA siswa dan mahasiswa yang melakukan praktek kerja lapangan (PKL) atau magang sebelum menyelesaikan studi, namun tak mendapatkan skill tambahan harus menjadi perhatian serius berbagai pihak.

Oleh: Jalatua Hasugian- Dosen USI Pematangsiantar.

Sebab banyak diantaranya hanya sebatas buat kopi dan urusan memotocopy berkas-berkas. Padahal tujuan utama PKL atau magang, agar mereka bisa mengenal langsung secara nyata seperti apa dunia kerja sesungguhnya, sebelum mereka lulus sekolah atau kuliah.

Keprihatinan tersebut disampaikan Menteri Tenaga Kerja (Menaker) Republik Indonesia Muhammad Hanif Dhakiri, saat menyampaikan Orasi Ilmiah pada Dies Natalis Universitas Simalungun Pematangsiantar ke-52, Kamis 28 September 2017.

Anggota DPR Periode 2009-2014 dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini selama hampir satu jam, membedah ragam persoalan ketenagakerjaan melalui topik “Kesiapan Universitas Simalungun dalam Menghasilkan Sumber Daya Manusia Menghadapi Persaingan Nasional dan Global”.

Meski disampaikan sembari bercanda di hadapan ribuan mahasiswa serta para dosen, tetapi ungkapan, “mahasiswa magang cuma ngurusi kopi dan fotocopy” agaknya cukup menggelitik perhatian kita.

Artinya program PKL atau magang di berbagai instansi atau dunia kerja selama ini belum banyak memberi nilai plus terhadap pengetahuan peserta didik. Di sisi lain, kita mencermati bahwa kritikan Menaker ini mendorong banyak pihak, terutama pengelola lembaga pendidikan untuk melakukan evaluasi dan pembenahan secepatnya. Utamanya, menyediakan tempat serta model pelatihan yang standart dengan kerja nyata, bukan sekadar menitipkan peserta didiknya ke instansi-instansi tertentu.

Apalagi disebutkan, rata-rata setiap tahun ada sekitar 2 jutaan angkatan kerja yang dihasilkan lembaga pendidikan yang harusnya terserap pasar kerja.

Namun karena banyak lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), Diploma bahkan Sarjana yang tak menguasai bidang ilmunya, penyerapannya di pasar kerja sangat rendah. Hal ini menguatkan argumentasi bahwa meski peserta didik dibekali kegiatan PKL atau magang di instansi kerja nyata, ternyata hasilnya masih jauh dari harapan.

Informasi menarik lainnya menurut mantan aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) ini, besarnya disparitas antara lulusan ilmu-ilmu sosial dan teknik juga turut memengaruhi kebutuhan pasar kerja.

Bagikan: