Menjadi Guru Yang Berke-Tuhanan

Bagikan:
Tantomi Simamora

Oleh: Tantomi Simamora, S.Sos.I

“Sosok guru yang berke-Tuhanan akan memberi pengaruh yang kuat dalam mendidik berdasarkan kecerdasan dan prestasinya, bukan karena sertifikat belaka”

Profesi guru itu memang amatlah berat, namun bukan berat fisik. Tapi berat dalam menanggung beban moril atas keberhasilan atau kegagalan kita dalam mendidik generasi yang bersimbol peserta didik. Maka sangat wajar sekali, jika pemerintah telah membuat kebijakan untuk para tenaga pendidik diberikan Tunjangan Profesi Pendidik (TPP). Maka bila sosok guru sudah menerima haknya berupa TPP sebagai imbalan atas sertifikasi pendidik, sudah seharusnya guru pandai bersyukur.

Rasa syukur itu akan mengaktualisasi dalam proses belajar mengajar serta perhatian kepada peserta didik. Bukan berarti dengan menerima TPP, justru guru cenderung konsumerisme dan memiliki perilaku baru yang kurang mendidik dihadapan peserta didik. Bagaimana pun guru adalah sosok yang beragama dan berke-Tuhan-an. Cerdas beragama berarti pandai bersyukur dan bukanlah tetap merasa kurang.

Sosok guru yang berke-Tuhanan tentu akan menjunjung tinggi kebenaran dalam mendidik. Kebenaran dalam arti jujur kepada diri dan orang lain, karena sosok guru layaknya bisa menjadi contoh tauladan, tidak hanya bagi peserta didiknya, tetapi harus bisa menjadi contoh di lingkungan keluarga, masyarakat dan bangsa.

Namun masihkan ada saat ini sosok guru yang berke-Tuhanan. Sebab dalam realitanya, banyak guru yang tidak memahami dengan profesinya sendiri yang terus menuntut untuk kemajuan dan kualitas pendidikan negeri ini. Terutama bagi para guru yang sudah menerima tunjangan sertifikasi guru.

Seharusnya lebih bergiat dan terus belajar seiring dengan bertambahnya kesejahteraan. Namun terkadang ketidakcerdasan guru penerima TPP justru acapkali terlihat ketika terjadi keterlambatan pencairan Tunjangan Propesi Pendidik. Mereka bergumam kesana kemari sampai mendapatkan kepastian cair tidaknya TPP yang menjadi haknya. Menggerutu dan saling curhat di berbagai jenis medsos. Ironisnya, ketika guru terlambat datang mengajar atau terlambat update informasi, mereka hanya terdiam seperti tak punya kekurangan.

Sudah sepatutnyalah bila seorang guru yang telah memegang sertifikat profesinya, jelas lebih kompeten dibanding guru lain yang belum memiliki sertifikat pendidik. Meskipun strata studinya setara, memang tak dapat dijadikan ukuran kualitas dan kompetensi seseorang.

Apalagi profesinya sebagai guru. Namun menjadi sebuah kewajiban mutlak bahwa seorang guru berstatus penerima TPP, harus lebih berkualitas dibanding guru yang masih berusaha mendapatkan TPP. Cerdas secara akademik ini dimaksudkan bahwa guru penerima TPP tak boleh berhenti belajar. Justru dengan tambahan penghasilan dari TPP, guru harus lebih giat belajar.

Bagikan: