Jufri Aman Saragih, Dari Sales, Kernek, Supir dan Gojek hingga Menjadi Pengusaha Sukses

Bagikan:
Jufri Aman Saragih.

JUFRI AMAN SARAGIH, itulah nama yang diberikan oleh kedua orangtuaku. Saya dilahirkan di Purba Dolok, sebuah daerah di propinsi Sumatera Utara, tepatnya di Kabupaten Simalungun pada 19 Agustus 1975. Di daerah ini pula saya menyelesaikan pendidikan dasar hingga menengah dan atas.

Pendidikan sekolah dasar selesai pada tahun 1989, sekolah menengah pertama pada tahun 1992 dan akhirnya oleh karena kasih karunia Tuhan pendidikan sekolah menengah atas bisa diselesaikan tepat pada waktunya, yakni tahun 1995. Sebagai anak kedua dari lima bersaudara, kami tidak bisa melupakan begitu saja pengorbanan kakak kami Maria. Betapa tidak, agar adik-adiknya bisa terus melanjutkan pendidikan, terpaksa dia tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya demi membantu perekonomian keluarga. Hal ini setidaknya memberikan gambaran tentang kondisi ekonomi keluarga kami pada masa itu.

Bahkan masih begitu jelas dalam ingatan saya bagaimana setiap harinya harus berjalan kaki pulang pergi ke sekolah dengan jarak tempuh yang terbilang lumayan jauh. Tahun 1995 menjadi sebuah awalan bagi suatu kehidupan yang diberkati. Meskipun berat karena harus meninggalkan keluarga di kampung halaman, tetapi keinginan yang membara dalam diri untuk merubah nasib, menghantarkan kaki ini untuk dipijakkan dibumi parahiangan dengan hanya bermodalkan ijasah SMA, dari daerah pula.

Jufri Aman Saragih Bakal Calon Bupati Simalungun periode 2020-2025.

Setelah berupaya ke sana kemari untuk melamar pekerjaan, akhirnya saya diterima sebagai salah seorang sales yang setiap harinya dengan pakaian rapih disertai dasi, semertara di kedua tangan membawa barang-barang yang ditawarkan door to door. Pekerjaan ini saya jalani selama kurang lebih tiga tahun. Keras dan beratnya kehidupan di kampung dan pola asuh orangtua secara tidak langsung merupakan modal tersendiri bagi saya, sementara itu, melalui pekerjaan ini saya juga belajar bagaimana menerima dan merespon baik penolakan maupun penerimaan konsumen. Dan hal ini tidak ternilai harganya karena berkontribusi besar bagi keberhasilan yang saya raih saat ini.

Di kota yang juga dikenal dengan Paris van Java ini pula, saya mengenal  hambaNya Ps Jimmy Oentoro, sebagai gembala gereja GISI, di tempat ini pula saya belajar dan memberi diri untuk aktif dalam kegiatan pelayanan gerejawi.

Hidup ini penuh dengan pilihan, dan dengan penuh kesadaran dilatarbelakangi oleh tidak adanya prospek yang jelas, maka saya ambil keputusan untuk meninggalkan ibukota propinsi Jawa Barat dan pindah ke Bekasi, tepatnya di pasar pagi Bekasi.

Modal yang terbatas menyebabkan saya tidak mendapatkan ruang gerak yang cukup untuk eksis di lokasi ini. Sehingga akhirnya saya memutuskan untuk ganti profesi, diawali sebagai seorang kernek, kemudian juga dipercaya sebagai sopir, bahkan demi menambah pemasukan profesi sebagai tukang ojek pun pernah kami lakoni.

Jufri Aman Saragih.

Berbagai pekerjaan yang “rendah” ini saya jalani tanpa sedikitpun ada rasa malu atau canggung, dan justru semuanya itu menjadi wadah tersendiri dalam mematangkan karakter untuk bisa berkompetisi didunia marketing. Tuhan menuntun langkahku sedemikian rupa hingga pada tahun 1999 menjadi sebuah era baru, dimana perjalanan hidupku masuk dalam dunia properti yang selamanya sangat menjanjikan bagi mereka yang mau berjuang.

Sebagai pendatang baru tentu masih banyak hal yang harus kami pelajari sehingga harus merangkak dari bawah. Dari tidak di gaji hingga akhirnya diberikan gaji tentu dengan keharusan mencapai target yang sudah ditentukan. Puji Tuhan, meskipun selama beberapa kali mengalami downgrade tetapi fighting spirit yang biasanya dimiliki oleh para perantau dari Sumatera, khususnya orang Batak, membuat saya tetap bertahan. Dimana salah satu faktornya adalah besarnya bonus yang pernah diterima sebelumnya.

Tuntutan untuk mencukupi kebutuhan keluarga, khususnya adik-adik, mendorong kami untuk kembali menekuni dunia marketing properti dengan menghubungi sesama mantan sales properti pada 2005.

Setelah menjalani masa pengenalan selama beberapa lama, pada bulan Oktober tahun 2006 kami menikah dengan Rani Henny Eva Silalahi. Pernikahan yang kami jalani selama ini Tuhan percayakan 3 orang anak, Hizkia Jufrandy Sijabat, Irene Brigita Jufrandi Sijabat dan Kristin Angle Jufrandi Sijabat.

Bagi sebagian orang, mungkin kerinduan saya untuk menjadi salah seorang manager bisa diibaratkan dengan pribahasa, “Bagai punguk merindukan bulan”.

Bagaimana mungkin seorang yang hanya bermodalkan ijasah SMA mau jadi manager? Tetapi apa yang tidak mungkin bagi manusia itu, terjadi dalam hidup saya. Meskipun awalnya sempat ditolak sehubungan dengan minimnya referensi pendidikan, tetapi akhirnya kesempatan menjadi manager diberikan juga dengan sejumlah target yang harus dicapai dalam kurun waktu tertentu. Bersama Tuhan tidak ada yang tidak mungkin.

Target pada akhirnya tercapai, bahkan tantangan baru diberikan untuk memimpin salahsatu cabang. Sekali lagi, mission accomplish. Demikian juga dengan jabatan sebagai general manager (GM) akhirnya bisa kami capai dan buktikan kepada seluruh stakeholder bahwa saya layak dipercaya. (st/rel)

Bagikan: